Lupis

Lupis salah satu jajanan pasar favorit saya dan Pak suami.  Minggu kemarin kedua kalinya praktik bikin lupis. Kalau hitung – hitungan waktu dan tenaga mending beli daripada bikin tapi karena menuntaskan rasa penasaran dan kepuasan batin jadilah bikin.

20190112_110403-1296x2304.jpg

Kebetulan juga ada beras ketan yang udah hampir sebulan tersimpan. Niatnya  saat musim mangga kemarin bikin manggo rice terus ketunda- tunda sampai akhirnya musim mangga usai.

Sempat bingung mau dibikin apa nih beras ketan karena kalau tidak buru – buru diolah akan berkutu. Eh sepulang Kerja Pak suami bawa lupis. Ehm, kenapa tidak dibikin lupis aja.

Bikinnya mudah tapi proses masaknya yang lama, 2 sampai 3 jam dengan presto agar ketannya benar – benar matang dan teksturnya menyatu.

Bahan

½ L beras ketan kualitas bagus

Garam secukupnya

Daun pisang batu*

Cara membuat

Cuci bersih beras ketan, tambahkan sedikit garam dan rendam selama kurleb 1 jam

Siapkan daun pisang; lap bersih dan potong sesuai ukuran

Didihkan air dalam panci presto.

Lipat daun membentuk kerucut, isi dengan 2 sdm beras ketan, tutup lipatan, semat dengan tusuk gigi. Lakukan hingga semua beras ketan habis.

20190111_173130-2304x1296.jpg

Masukkan bungkusan beras ketan ke dalam panci presto yang airnya sudah mendidih. Semua bungkusan lupis tenggelam dalam air rebusan.

20190111_173631-2304x1296.jpg

Daun Pisang Batu

Saya kira semua  daun pisang – dari pisang jenis apapun – bisa dipakai untuk bungkus – bungkus seperti daun pisang untuk mepes atau membuat  lontong, ternyata tidak!

Daun pisang untuk membungkus itu daun pisang dari pisang batu. dan kalau kita beli daun pisang dipasar untuk bungkus – bungkus pasti daun pisang batu karena hanya daun pisang jenis ini yang daunnya tidak mudah sobek saat dilipat/ditekuk, agak lentur.

Pisang batu sendiri tahu kan teman – teman? Itu lho pisang yang bijinya banyak dan besar – besar, kira – kira seukuran kacang hijau dan teksturnya keras. Pisang ini biasanya jadi pakan burung.

Dan saya baru tahu kalau daun pisang untuk membungkus itu dari daun pisang batu setelah tinggal di kampung ini. Obrolan tak sengaja dengan ibu tetangga saat saya memutuskan menanam pohon pisang di belakang rumah. “Biar kalau mau mepes tahu tidak repot cari daun,” kata saya.

“Kalau pisang uli ga bisa daunnya dipakai bungkus – bungkus mama Khalif, yang buat bungkus – bungkus daun pisang batu. kalau daun pisang biasa mudah sobek.”

“O….”

Beberapa tetangga ada yang sengaja menanam pisang batu karena daunnya dipakai untuk membuat lontong atau dijual ke pasar. Jadi kalau butuh saya beli ke mereka. Cerita tinggal di kampung yang masih banyak kebun tetangganya hehehe

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Lupis

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: